Next
Previous
Contents
- Sekitar tahun 1940-an sepulang Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis
Amir (Madigol) dari mukimnya selama 10 tahun di Makkah, saat itulah
masa awal dia menyampaikan ilmu hadits manqulnya, juga mengajarkan
ilmu bela diri pencak silat kanuragan serta qiroat. Selain itu juga
ia biasa melakukan kawin cerai, terutama mengincar janda-janda kaya.
Kebiasaan itu benar-benar ia tekuni hingga ia mati (1982 M). Kebiasaan
lainnya adalah mengkafir-kafirkan dan mencaci maki para kiyai/ulama
yang diluar aliran kelompoknya dengan cacian dan makian sumpah serapah
yang keji dan kotor. Dia sering menyebut-nyebut ulama yang kita kaum
Suni muliakan yaitu Prof. Dr. Buya Hamka dan Imam Ghozali dengan
sebutan (maaf, pen) Prof. Dr. Buaya Hamqo dan Imam Gronzali. Juga
dia sangat hobi membakar kitab-kitab kuning pegangan para kiyai/ulama
NU kebanyakan dengan membakarnya di depan para murid-murid dan pengikutnya.
- Masa membangun Asrama Pengajian Darul Hadits berikut pesantren-pesantrennya
di Jombang, Kedir, dan di Jl. Petojo Sabangan Jakarta sampai dengan
masa Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep
asal doktri imamah dan jama'ah (yaitu : Bai'at, Amir, Jama'ah, Taat)
dari seorang Jama'atul Muslimin Hizbullah, yaitu Wali al-Fatah, yang
dibai'at pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama'ah termasuk sang
Madigol sendiri. Pada waktu itu Wali al-Fatah adalah kepala biro
politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno).
- Masa pendalaman manqul Qur'an Hadits, tentang konsep Bai'at,
Amir, Jama'ah dan Ta'at, itu sampai tahun 1960. Yaitu ketika ratusan
jama'ah pengajian Asrama manqul Qur'an Hadits di Desa Gadingmangu
menangis meminta Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol)mau dibai'at
dan ditetapkan menjadi imam/amir mu'minin alirannya. Mereka semuanya
menyatakan sanggup taat dengan dikuatkan masing-masing berjabat tangan
dengan Madigol sambil mengucapkan Syahadat, shalawat dan kata-kata
sakti ucapan bai'atnya masing-masing antara lain : "Sami'na
wa atho'na Mastatho 'na" sebagai pernyataan sumpah untuk tetap
setia menetapi program 5 bab atau "Sistem 3 5 4." Belakangan
yang menjadi petugas utama untuk mendoktrin, menggiring dan menjebak
sebanyak-banyaknya orang mau berbai'at kepada dia adalah Bambang
Irawan Hafiluddin yang sejak itu menjadi Antek Besar sang Madigol.
Namun Alhamdulillah Bambang Irawan Hafiluddin dengan petunjuk, taufik
dari Allah SWT, kini telah keluar dari aliran ini dan mengungkap
rahasia LDII itu sendiri.
- Masa bergabungnya si Bambang Irawan Hafiluddin (yang diikuti
juga oleh Drs. Nur Hasyim, Raden Eddy Masiadi, Notaris Mudiyomo dan
Hasyim Rifa'i) sampai dengan masa pembinaan aktif oleh mendiang Jenderal
Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo berikut para perwira
OPSUSnya yaitu masa pembinaan dengan naungan surat sakti BAPILU SEKBER
GOLKAR: SK No. KEP. 2707/BAPILO/SBK/1971 dan radiogram PANGKOPKAMTIB
No. TR 105/KOPKAM/III/1971 atau masa LEMKARI sampai dengan saat LEMKARI
dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur
atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan
KH. Misbach.
- Masa LEMKARI diganti nama oleh Jenderal Rudini (Mendagri 1990/1991
menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) yaitu masa mabuk
kemenangan, karena merasa berhasil Go-Internasional, masa sukses
besar setelah Madigol berhasil menembus Singapura, Malaysia, Saudi
Arabia (bahkan kota suci Makkah) kemudian menembus Amerika Serikat
dan Eropa, bahkan sekarang Australia dengan siasat Taqiyyahnya: Fathonah,
Bithonah, Budiluhur Luhuringbudi, yang lebih-lebih tega hati dan
canggih.
Next
Previous
Contents